Jumat, 25 September 2020

Borobudur menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang paling favorit di kalangan wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Keindahan dan keunikan struktur bangunannya pun mampu menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu Situs Warisan Dunia. Lebih dari itu, candi Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah ini ternyata juga memiliki makna, filosofi, dan sejarah yang menarik. Berikut ini adalah rangkuman sejarah serta makna dan filosofi tingkatan stupa Borobudur yang patut Anda ketahui.

Sejarah Singkat Borobudur

Sejarah Singkat Borobudur

Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia. Menurut sejarah, candi ini didirikan kira-kira pada tahun 824 M, tepatnya pada masa Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Arsitektur dari Candi Borobudur adalah Gunadarma. Asal nama Borobudur sendiri berasal dari kata ‘bara’ dan ‘budur’. Kata ‘bara’ berasal dari kata Sansekerta ‘wihara’ atau ‘biara’ yang berarti kuil atau asrama. Sementara ‘budur’ diperkirakan berasal dari kata ‘beduhur’ yang artinya ‘di atas’. Jadi, secara keseluruhan nama Borobudur dapat diartikan sebagai biara atau kuil yang berada di atas bukit.

Candi Borobudur diyakini sebagai tempat pemujaan dan tempat ibadah umat Buddha pada zaman itu. Kini, selain sebagai destinasi wisata, Borobudur juga digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Setiap tahun banyak umat Buddha yang datang ke Borobudur untuk memperingati hari-hari suci seperti Trisuci Waisak.

Makna Tingkatan Candi Borobudur

Makna Tingkatan Candi Borobudur

Terdapat tiga tingkatan dalam bangunan Candi Borobudur. Dalam setiap tingkatan, ada sebuah makna yang terkandung. Berikut makna dari setiap tingkatan Candi Borobudur.

1. Kamadhatu. Tingkatan yang ada di bagian kaki Borobudur, melambangkan dunia yang masih dikuasai oleh Kama atau “nafsu rendah”. Pada tingkatan ini terdapat relief Karmawibangga, yang melambangkan suatu hukum sebab akibat dari hasil perbuatan manusia. Tingkatan Kamadatu juga menggambarkan manusia yang masih terikat pada hasrat, kemauan, dan hawa nafsu.

2. Rupadhatu. Dalam tingkatan ini, terdapat empat undak teras membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief. Ada setidaknya 1.300 gambar relief di lorong tersebut. Tingkatan Rupadhatu dimaknai sebagai alam antara dunia rupa. Rupadhatu menggambarkan manusia yang telah meninggalkan segala urusan dunia termasuk hasrat dan kemauan, namun masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini juga melambangkan alam antara, yakni berada di antara alam bawah dan alam atas.

3. Arupadhatu. Bagian yang digambarkan sebagai alam atas, yaitu tempat para dewa. Tidak ada gambar relief pada tingkatan ini. Arupadhatu diyakini sebagai penggambaran manusia yang sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada bagian ini terdapat 72 stupa kecil yang tersusun dalam tiga barisan mengelilingi satu stupa besar yang disebut sebagai stupa induk.

Stupa dan Archa Buddha dalam Candi Borobudur

Stupa dan Archa Buddha dalam Candi Borobudur

Candi Borobudur memiliki total 73 stupa dengan rincian 72 stupa kecil dan 1 stupa induk. Selain itu, Borobudur juga memiliki 503 archa Buddha dengan mudra (gestur atau sikap tubuh) berbeda-beda dan melambangkan makna yang berbeda-beda pula. Berdasarkan mudra tersebut, archa Buddha dalam Candi Borobudur dikelompokkan menjadi 6 jenis, di antaranya :

1. Bhumisparsa mudra. Archa dengan mudra jenis ini melambangkan pemanggilan bumi sebagai saksi. Lokasi archa Bhumisparsa mudra berada di tingkatan Rupadhatu sisi timur.

2. Wara mudra. Archa jenis ini melambangkan kedermawanan. Lokasinya berada di bagian sisi selatan tingkatan Rupadhatu.

3. Dhyana mudra. Memiliki makna semedi atau meditasi. Berada di 4 baris utama tingkatan Rupadhatu sisi barat.

4. Abhaya mudra. Archa Abhaya mudra melambangkan ketidakgentaran. Menghadap arah mata angin utara. Lokasinya berada di tingkatan Rupadhatu sisi utara.

5. Witarka mudra. Archa jenis ini melambangkan akal budi. Lokasinya berada di pagar lankan baris kelima teratas pada tingkatan Rupadhatu dan terletak di semua sisi.

6. Dharmachakra mudra. Melambangkan pemutaran roda dharma. Lokasinya berada di teras melingkar Arupadhatu, tepatnya di dalam 72 stupa kecil.

Kenali Lebih Jauh tentang Tingkatan Stupa Borobudur

Itulah beberapa informasi tentang sejarah dan makna tingkatan stupa serta archa Buddha dalam Candi Borobudur. Bagaimana? Suka dengan topik artikel ini? Yuk, jangkau lebih banyak artikel serupa dengan mengunjungi Wonderful Indonesia.


Kenali Lebih Jauh tentang Tingkatan Stupa Borobudur
September 25, 2020

Kenali Lebih Jauh tentang Tingkatan Stupa Borobudur